7 May 2026 · Gresik · 4 menit baca

Opini : Gresik Maju, Tapi Siapa yang Benar-Benar Bertumbuh?

Kabupaten Gresik sedang berada di persimpangan besar. Di satu sisi, daerah ini tumbuh menjadi kawasan industri yang semakin kuat di Jawa Timur. Investasi terus bergerak, kawasan pabrik semakin luas, infrastruktur…

Opini : Gresik Maju, Tapi Siapa yang Benar-Benar Bertumbuh?

Kabupaten Gresik sedang berada di persimpangan besar. Di satu sisi, daerah ini tumbuh menjadi kawasan industri yang semakin kuat di Jawa Timur. Investasi terus bergerak, kawasan pabrik semakin luas, infrastruktur berkembang cepat, dan roda ekonomi terlihat hidup hampir di setiap sudut wilayah. Namun di sisi lain, perubahan sosial yang muncul justru menghadirkan tantangan baru yang tidak sederhana.

Kemajuan ekonomi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan sosial dan politik masyarakat. Di tengah geliat industrialisasi, kita masih menyaksikan ketimpangan sosial, meningkatnya pola hidup individualistik, melemahnya budaya dialog publik, hingga politik yang terkadang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kualitas kehidupan masyarakat.

Fenomena ini penting dibaca melalui pendekatan sosiologi politik. Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya urusan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga menyangkut relasi kekuasaan, distribusi kesejahteraan, serta bagaimana masyarakat ditempatkan dalam proses perubahan tersebut.

Hari ini Gresik memang terlihat maju. Akan tetapi, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masyarakat ikut bertumbuh bersama kemajuan itu?

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua kelompok masyarakat memperoleh manfaat yang sama dari industrialisasi. Sebagian masyarakat mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi baru, sementara sebagian lainnya justru tertinggal. Banyak anak muda masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. UMKM lokal harus bersaing keras dengan pasar modern. Bahkan di beberapa kawasan industri, masyarakat sekitar masih merasa hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri. Dalam teori sosiologi politik, kondisi seperti ini menunjukkan adanya ketimpangan akses terhadap sumber daya sosial dan ekonomi. Mereka yang memiliki akses pendidikan, jaringan, dan modal akan lebih mudah mengambil manfaat dari pembangunan. Sebaliknya, masyarakat dengan keterbatasan akses sering kali hanya menerima dampak perubahan tanpa benar-benar menjadi bagian dari kemajuan itu sendiri.

Karena itu, pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari tingginya investasi atau banyaknya proyek fisik yang berdiri. Ukuran kemajuan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kapasitas intelektual untuk ikut bergerak bersama perubahan zaman. Di titik inilah dunia pendidikan memiliki peran yang sangat strategis. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak ijazah, tetapi harus menjadi ruang lahirnya kesadaran intelektual masyarakat. Pendidikan harus mampu membangun cara berpikir kritis, kesadaran sosial, serta kemampuan membaca perubahan yang sedang terjadi di sekitar kita.

Dalam konteks ini, Universitas Sunan Gresik dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masa depan sosial-politik daerah. Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di tengah kawasan industri dan masyarakat yang terus berubah, kampus memiliki peluang besar menjadi penghubung antara dunia akademik dan kebutuhan nyata masyarakat. Kampus harus hadir bukan hanya sebagai institusi formal, tetapi sebagai ruang dialog publik. Mahasiswa perlu didorong untuk memahami persoalan sosial secara langsung, mulai dari ketimpangan ekonomi, perubahan budaya masyarakat, hingga dinamika politik lokal. Sebab intelektual yang kuat tidak lahir hanya dari ruang kelas, tetapi juga dari keberanian membaca realitas sosial secara jujur.

Lebih dari itu, dunia akademik juga perlu berjalan beriringan dengan dunia industri. Selama ini hubungan keduanya sering kali berjalan sendiri-sendiri. Industri bergerak mengejar pertumbuhan ekonomi, sementara kampus sibuk dengan rutinitas administratif dan akademik yang terkadang jauh dari kebutuhan masyarakat. Padahal keduanya bisa saling menguatkan. Industri membutuhkan sumber daya manusia yang kritis, adaptif, dan mampu membaca perubahan. Sementara kampus membutuhkan ruang implementasi agar ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai teori semata. Kolaborasi antara pendidikan dan industri inilah yang seharusnya mulai diperkuat di Gresik.

Kesadaran akademik masyarakat juga harus mulai dibangun secara lebih luas. Hari ini kita hidup di tengah arus informasi yang begitu cepat, tetapi belum tentu melahirkan masyarakat yang kritis. Media sosial sering kali membuat masyarakat lebih mudah terjebak pada opini dangkal, propaganda politik, bahkan budaya instan yang mengabaikan proses berpikir mendalam.

Karena itu, masyarakat perlu mulai membiasakan budaya diskusi, membaca, dan berpikir kritis terhadap isu-isu publik. Kesadaran intelektual bukan hanya tugas kampus, tetapi tanggung jawab bersama. Sebab daerah yang maju tidak hanya membutuhkan gedung tinggi dan kawasan industri besar, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir sehat, rasional, dan memiliki kepedulian sosial.

Generasi muda Gresik memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Anak muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi atau penonton dinamika politik. Mereka harus berani hadir sebagai kelompok intelektual baru yang mampu membawa gagasan, kritik, dan solusi untuk daerahnya sendiri.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Gresik hari ini bukan sekadar bagaimana menjadi daerah industri yang besar, tetapi bagaimana menjaga agar pertumbuhan itu tetap memiliki arah sosial yang jelas. Industrialisasi tanpa kesadaran intelektual hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh. Sebaliknya, ketika pembangunan ekonomi berjalan berdampingan dengan pendidikan, kesadaran akademik, dan kematangan sosial-politik, maka Gresik tidak hanya akan tumbuh sebagai kota industri, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang kuat dan berdaya saing. Dan dari situlah masa depan daerah sesungguhnya dibangun.

Catatan seru dari Abdurahman Marzuki

Kategori: Opinion.

Bagikan

Komentar

Jadilah yang pertama berkomentar.