31 July 2026 · Gresik, Jawa Timur · 3 menit baca

Cegah Hoaks Politik di Media Sosial, Dosen dan Mahasiswa Universitas Sunan Gresik Bina Warga Desa Karangrejo Jadi “Kader JagaDi”

Derasnya arus informasi politik di media sosial ternyata belum diimbangi dengan kemampuan warga memilah mana berita yang benar dan mana yang hoaks. Menjawab persoalan itu, sekelompok dosen dan mahasiswa Universitas…

Derasnya arus informasi politik di media sosial ternyata belum diimbangi dengan kemampuan warga memilah mana berita yang benar dan mana yang hoaks. Menjawab persoalan itu, sekelompok dosen dan mahasiswa Universitas Sunan Gresik (USG) turun langsung ke Desa Karangrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, untuk menggelar program sosialisasi dan pendampingan pencegahan hoaks berita politik di media sosial. Kegiatan yang digagas oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi USG, Riza Nur Rizqiyah, bersama Kharisma Firdaus dan Imma Ya’tiana, ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USG. Program ini sekaligus menjadi bentuk implementasi Kampus Berdampak dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang melibatkan mahasiswa secara langsung dalam menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat.

Desa Pesisir yang Rentan Hoaks

Desa Karangrejo dipilih karena tingkat aktivitas bermedia sosial warganya yang tinggi, namun tidak diimbangi kemampuan literasi digital yang memadai. Desa yang terletak di bantaran Bengawan Solo ini sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani tambak. Hasil observasi awal tim menemukan banyak warga masih memercayai informasi yang beredar di grup WhatsApp tanpa memverifikasinya lebih dulu, terutama jika informasi itu dibagikan oleh keluarga atau tokoh yang dihormati. Budaya “sungkan” dan “isin” untuk membantah informasi dari orang yang lebih tua turut membuat hoaks politik lebih mudah bertahan dan menyebar di lingkungan desa. Persoalan ini bukan tanpa alasan. Data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mencatat sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2025 terdapat 1.593 temuan hoaks nasional, dan 48,5 persen di antaranya bermuatan politik. Sementara itu, Indeks Literasi Digital Indonesia pada 2024 masih berada di angka 3,78 dari skala 5, dengan kesenjangan literasi digital antara desa dan kota yang masih cukup lebar.

Lahirkan Kader “JagaDi”

Program berlangsung dalam lima tahapan, mulai dari sosialisasi kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat, forum sosialisasi publik di balai desa lengkap dengan pemutaran video simulasi dampak hoaks, hingga pelatihan intensif bagi kader yang dinamai “JagaDi” atau Jaga Jagad Digital. Peserta pelatihan berasal dari unsur karang taruna, PKK, perangkat desa, dan tokoh pemuda setempat. Dalam pelatihan, para kader dibekali materi tentang algoritma media sosial, anatomi hoaks politik, hingga bias kognitif yang membuat seseorang mudah percaya pada berita bohong. Mereka juga diajak praktik langsung melakukan fact-checking berita di media sosial serta menanamkan prinsip etika digital “Saring sebelum Sharing” agar terbiasa memverifikasi informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Sebagai tindak lanjut, tim bersama kader menyusun Poster Digital Anti Hoax berisi infografis klarifikasi hoaks dan edukasi literasi digital, yang kemudian disebarluaskan melalui grup WhatsApp desa. Pengelolaan media sosial resmi desa juga dioptimalkan agar warga memiliki rujukan kanal informasi yang lebih kredibel dibandingkan sumber-sumber tidak resmi yang selama ini banyak diakses.

Pemahaman Warga Naik Lebih dari 80 Persen

Efektivitas program diukur melalui kuesioner pre-test dan post-test yang dibahas bersama dalam diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion (FGD) di pertengahan kegiatan. Hasilnya, pemahaman peserta mengenai konsep hoaks, teknik verifikasi informasi, dan etika berbagi informasi meningkat lebih dari 80 persen dibandingkan kondisi sebelum pelatihan. Selain itu, tim juga mencatat perubahan perilaku warga yang menjadi lebih berhati-hati sebelum meneruskan informasi politik yang belum terverifikasi, serta tumbuhnya inisiatif untuk saling mengingatkan di dalam grup keluarga maupun komunitas. Agar dampaknya tidak berhenti seiring selesainya masa pendampingan, tim pengabdian mendorong keberlanjutan program melalui pengelolaan mandiri media sosial desa oleh kader dan perangkat desa, serta membangun jejaring dengan komunitas antihoaks yang lebih luas. Bagi para dosen, kegiatan ini juga membuka ruang belajar lintas disiplin bagi mahasiswa yang terlibat, mulai dari ilmu komunikasi, teknologi informasi, hingga sosiologi, sekaligus mendukung capaian program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Model pemberdayaan berbasis kader lokal yang dipadukan dengan pendekatan sosio-kultural setempat ini dinilai efektif sebagai strategi pencegahan hoaks politik yang berkelanjutan. Tim USG berharap pendekatan serupa dapat direplikasi di desa-desa lain untuk mendukung terciptanya ekosistem informasi digital yang lebih sehat, aman, dan kondusif bagi kehidupan demokrasi masyarakat.

Kategori: Education. Tag: #Literasi Digital-Komunikasi Politik-Pencegahan Hoax

Bagikan

Komentar

Jadilah yang pertama berkomentar.