12 June 2026 · Gresik · 3 menit baca

Putus Rantai Apatisme Lewat ‘Literasi Struktural Politik Lokal’, Akademisi USG Nyalakan Nalar Kritis Siswa MA Al-Hidayah di Betoyokauman Manyar Gresik

GRESIK — Ruang kelas MA Al-Hidayah Betoyokauman, Manyar, mendadak riuh. Siang itu, tidak ada papan tulis yang dipenuhi hafalan pasal-pasal hukum yang kaku, atau ceramah satu arah tentang struktur lembaga negara yang…

GRESIK — Ruang kelas MA Al-Hidayah Betoyokauman, Manyar, mendadak riuh. Siang itu, tidak ada papan tulis yang dipenuhi hafalan pasal-pasal hukum yang kaku, atau ceramah satu arah tentang struktur lembaga negara yang membosankan. Sebaliknya, puluhan siswa justru sedang asyik berdebat, memetakan bagaimana relasi kuasa, benturan kepentingan, dan modal sosial bekerja di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

Pemandangan segar ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sunan Gresik (USG). Gelaran bertajuk “Literasi Struktural Politik Lokal” ini digawangi oleh tim dosen USG yang terdiri dari Abdurrahman Marzuki, Muhammad Mukhobbir Risalah, dan Sugiman beserta Abdullah Moh Rifqi. Tak bekerja sendiri, para dosen ini juga menggandeng sejumlah mahasiswa lintas program studi USG untuk terjun langsung memfasilitasi jalannya program di lapangan.

Kehadiran para mahasiswa ini menjadi jembatan yang mencairkan suasana, mendampingi para siswa madrasah saat membedah teori-teori sosiologi politik yang rumit menjadi diskusi kelompok yang santai namun tetap tajam.”Mendidik warga negara yang mampu berpikir kritis dan berpartisipasi secara bermakna adalah investasi terbaik untuk demokrasi lokal yang sehat,” ujar perwakilan tim pengabdi saat menjelaskan latar belakang program ini.

Memutus Rantai Apatisme Sejak DiniSelama ini, mata pelajaran seperti Sosiologi dan PPKn di tingkat sekolah menengah sering kali terjebak dalam pendekatan normatif. Siswa dituntut menghafal regulasi formal pemilu, namun gagap dan defisit kerangka analisis ketika dihadapkan pada dinamika kekuasaan informal yang nyata di tingkat akar rumput. Akibatnya, muncul kesadaran kewargaan yang pasif; siswa menjadi apatis terhadap kebijakan desa atau justru bersikap emosional-reaktif saat melihat konflik sosial.Melihat celah tersebut, tim USG merancang sebuah intervensi berbasis model 4D yang berjalan intensif selama lima bulan. Fondasi pertamanya dimulai dari penguatan kapasitas guru mitra lewat workshop inovatif.

Dari sana, lahirlah sebuah produk suplemen bahan ajar berupa bahan literasi kritis baik dalam versi cetak maupun digital. Materi ini mengemas empat pilar krusial: mulai dari teori kekuasaan kontemporer, metode analisis jaringan aktor, hingga kajian kasus riil di wilayah Gresik. Melalui uji validasi ketat, materi ini mengantongi skor kelayakan di atas 80 persen dari para ahli materi dan media.Investigasi Lapangan: Siswa Jadi “Detektif” SosialNaluri kritis para siswa benar-benar diuji saat mereka diminta “turun gunung” melalui metode pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning).

Didampingi oleh mahasiswa USG yang bertindak sebagai fasilitator lapangan, para siswa MA Al-Hidayah Betoyokauman dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menginvestigasi tiga isu publik yang paling dekat dengan keseharian mereka.Kelompok pertama bergerak meneliti efektivitas dan transparansi layanan di Balai Desa Betoyokauman. Kelompok kedua menelusuri sengkarut tata kelola sampah dan keterlibatan aktor di tingkat kecamatan Manyar.

Sementara kelompok ketiga melakukan pemetaan sosiologis yang tak kalah menarik: membaca konstelasi kepentingan dan perebutan pengaruh di balik suksesi pemilihan ketua RT dan RW di lingkungan warga.Dampak Nyata untuk Demokrasi Akar Rumput Hasil dari program kolaboratif ini terbukti luar biasa. Pendekatan inkuiri sosial ini berhasil mendongkrak ketajaman analisis struktural siswa hingga 70 persen. Mereka kini tak lagi sekadar melihat permukaan, melainkan mampu membaca bagaimana modal sosial, ekonomi, hingga jaringan keagamaan berkonversi menjadi sebuah pengaruh kebijakan publik.

Di sisi lain, para guru sosiologi dan PPKn di madrasah tersebut kini terampil menerapkan metode diskusi kritis tanpa khawatir memicu polarisasi di dalam kelas. Kompetensi pengajaran guru mitra dilaporkan meningkat hingga 80 persen setelah proses pendampingan berjalan.Keberhasilan program ini memicu rekomendasi kuat agar MA Al-Hidayah Betoyokauman mengintegrasikan materi suplemen ini ke dalam kurikulum muatan lokal secara permanen sebagai warisan institusional. Menutup perjalanan lima bulan tersebut, tim pengabdi USG berharap estafet literasi kritis ini tidak berhenti di sini, melainkan dapat direplikasi oleh akademisi lain dengan cakupan lokus relasi kuasa yang lebih makro di tingkat Kabupaten Gresik.

Kategori: Education.

Bagikan

Komentar

Jadilah yang pertama berkomentar.